Ciri-ciri umum dan juga klasifikasi Platyhelminthes (Cacing Pipih)

Ciri-ciri umum dan juga klasifikasi Platyhelminthes ( Cacing Pipih)

Selamat malam, sebelumnya kita sudah membahasa mengenai Nemathelminthes (Cacing Gilig) . Nah pada kesempatan kali ini saya akan memberikan informasi mengenai Platyhelminthes ( Cacing Pipih) yang mana berasal dari bahasa yunani platy yaitu pipih dan helminthes yang berarti cacing, jadi maksudnya adalah cacing berbentuk pipih, trplobastik (mempunyai tiga lapisan embrionik) dan aselomata (yaitu tidak berongga tubuh). Adapun ciri-ciri umum dan klasifikasi Platyhelminthes atau cacing pipih adalah sebagai berikut.


a. Ciri-ciri Platyhelminthes (Cacing Pipih)
- Tubuhnya berbentuk simetri dan juga pada rongga tubuhnya bersifat triploblastic aselomata (memiliki tiga lapisan embrional tetapi belum memiliki selom).
- Pada Platyhelminthes atau cacing pipih belum mempunyai system peredaran darah dan anus.
- Sistem sarafnya masih sangat sederhana dan berupa system saraf tangga tali.

b. Klasifikasi Platyhelminthes (Cacing Pipih)
- Adapun Platyhelminthes itu sendiri bisa dibedakan dalam tiga kelas, yaitu Turbellaria, Trematoda, dan juga Cestoda..
- Turbellaria (cacing berambut getar)
contohnya: Planaria yang mana mereka hidup bebas di air tawar, memiliki daya regenerasi yang tinggi, bersifat hermafrodit, dan mempunyai alat eksresi brupa sel-sel api (flame cell).
- Trematoda (cacing hisap)
Merupakan Platyhelminthes yang bersifat parasite, baik pada hewan ataupun juga manusia. Contohnya:
a. Fasciola hepatica yaitu parasite pada hati hewan ternak dengan inang perantaranya siput ( Lymnaea ). Adapun siklus hidup Platyhelminthes (cacing pipih) itu sendiri adalah sebagai berikut.
1. Fasciola hepatica menghasilkan telur pada hati hewan ternak, lalu telur kemudian berpindah melalui aliran darah ke empedu dank e usus, lalu keluar bersama tinja.
2. Telur menetas dan tumbuh menjadi mirasidium (larva 1) bersilia di tempat basah atau yang berair.
3. Kemudian mirasidium menginfeksi inang perantara, yaitu siput air (Lymnaea).
4. Setelah itu mirasidium berubah menjadi sporokis dalam tubuh siput.
5. Kemudian secara aseksual berubah menjadi redia (larva II).
6. Redia bermetamorfosis menjadi serkaria . Serkaria keluar dari tubuh siput lalu menempel pada tumbuhan atau rumput air.
7. Lalu serkaria membentuk (cacing muda).
8. Dan terakhir metaserkaria dimakan oleh hewan ternak, kemudian larvanya masuk ke dalam usus, kemudian terbawa aliran darah dan menjadi cacing dewasa pada organ hati.

b. Chlonorchis sinensis adalah cacing hati manusia dengan inang perantara ikan air tawar.
c. Schistosoma japonicum disebut cacing darah dengan inang perantara siput.
d. Fasciolopsis buski parasite pada usus halus manusia dengan inang perantaranya tumbuhan air.

- Cestoda (cacing pita)
Bersifat parasite dengan bentuk tubuhnya tersusun atas rangkaian segmen-segmen yang disebut proglotid . Dan pada bagian ujung segmen terdapat kepala (skoleks) yang memiliki alat isap. Pada cestoda belum memiliki alat pencernaan.
Contoh:
1. Taenia solium . Inang perantaranya babi dan memiliki pengait pada skoleks.
2. Taenia saginata . Inang perantaranya sapi dan tidak memiliki pengait pada skoleks.
Siklus hidup cacing pita : Proglotid keluar bersama feses manusia lalu tertelan oleh sapi atau babi bersama makanannya dan menetas menjadi heksakan (onkosfer) lalu menembus dinding usus sapi atau babi menjadi sistisrkus dalam otot atau daging dan kemudian daging tersebut termakan oleh manusia, kemudian sisterkus berubah menjadi cacing dewasa dalam usus halus manusia.

Related Posts:

1 Response to "Ciri-ciri umum dan juga klasifikasi Platyhelminthes (Cacing Pipih)"

1. Dilarang menggunakan kata-kata kasar atau pornografi.
2. Dilarang menggunakan live link ataupun link biasa.
3. Berkomentarlah dengan komentar yang relevan